Antara Aku, Bunda, dan Kakak Part 2

Kakak..

Engkau terlahir dari rahim bunda, sama sepertiku.

Engkau mendapatkan semua kasih sayang bunda, tanpa kurang sedikit pun..

Kakak..

Saat engkau jatuh, bunda dengan penuh kasih mengulurkan tangannya untukmu.

Ketika jalanmu masih tertatih, bunda selalu sabar menatihmu, hingga engkau bisa berlalri.

Tak pernah sedikit pun bunda membiarkan engkau merintih tersakiti.

Bunda selalu ada untuk menghapus air matamu..

Kakak..

Kasih sayang bunda tak pernah habis untukmu.

Bunda selalu menerimamu dalam keadaan apapun.

Ketika engkau sakit, bunda orang pertama yang menangis untukmu.

Bunda tulus merawatmu, hingga engkau bisa tersenyum kembali.

Namun, apa yang engkau beri untuk bunda?

Kakak..

Semakin hari, aku semakin tak mengerti dengan jalan pikiranmu.

Engkau pergi meninggalkan kami begitu saja.

Engkau meninggalkanku saat jalanku masih tertatih.

Engkau tak ada di samping bunda, saat bunda merintih tersakiti.

Apa ini, kado untuk Bunda?

Kakak..

Bukan masalah siapa yang merawat bunda?

Aku ikhlas merawat bunda karena Allah.

Tapi apakah engkau sudah tak sayang lagi sama bunda?

Apa ini, balasan untuk orang yang telah mengandung dan melahirkanmu?

Apa pantas, engkau melakukan ini kepada orang yang telah mempertaruhkan nyawanya untukmu?

Kakak..

Kita terlahir dari rahim yang sama.

Kasih sayang serta perhatian yang bunda berikan pun sama.

Bunda tak pernah membedakan antara aku dan engkau.

Bunda selalu berlaku adil pada kita.

Tapi kenapa engkau tak bisa melakukan hal yang sama kepada bunda?

Seperti yang bunda lakukan untukmu.

Kakak..

Engkau lah panutanku.

Engkau orang kedua setelah bunda, yang mengajarkanku tentang kehidupan.

Aku masih ingat tentang memberi yang engkau ajarkan.

Engkau mengajariku berbagi selagi kita mampu.

Engkau menunjukan perjuangan untuk gapai mimpi.

Engkau menanamkan semangat padaku.

Engkau menekankan untuk tak menghujat dan mencaci.

Namun, kini seakan engkau tak mengamalkan apa yang telah engkau ajarkan padaku..

Kakak..

Engkau tak memberi, saat bunda butuh kasih sayang dan perhatianmu.

Engkau tak mau membagi waktumu, ketika bunda merintih tersakiti.

Engkau tak berjuang untuk kebahagiaan bunda.

Semangatmu telah luntur tuk menjaga bunda..

Kakak..

Ketika aku mengambil alih peranmu, engkau sama sekali tak peduli meski jalanku masih tertatih.

Aku berusaha memberikan kasih sayang yang bunda butuhkan.

Aku memberikan seluruh waktuku untuk merawat bunda.

Aku berjuang dan mempertaruhkan semuanya untuk kebahagiaan bunda.

Semangatku tak pernah padam untuk membuat bunda tersenyum.

Namun, saat keadaan bunda mulai membaik, engkau datang kembali.

Engkau datang untuk menghujat dan mencaciku..

Kakak..

Bukan kah, engkau yang menekankan padaku untuk tak menghujat dan mencaci?

Tapi kenapa engkau melakukannya padaku?

Apa aku salah, jika mengabil alih peranmu?

Apa aku salah, jika berusaha membuat bunda tersenyum seperti dulu?

Apa yang salah dengan usahaku?

Hingga engkau menghujat dan mencaciku tanpa henti..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s