Aku, Kamu dan Rasaku

Hari demi hari, telah ku lewati tanpa bayangmu. Aku merasa bisa lalui hariku tanpamu. Ku kira, aku kuat tanpamu disisku. Pertemuan ku denganmu pun jarang, bahkan tak pernah tertatap tertegun. Dan aku berpikir rasa itu telah tiada.

Namun, ternyata aku salah. Aku salah meraba rasaku. Aku salah mengartikan sikapku terhadapmu. Aku salah menganalisa rentang pertemuan itu. Aku salah menerka dengan logika. Seharusnya, sejak awal hati dan logika berjalan beriringan, bukan seperti sekarang. Aku terasa pincang, jalanku pun tertatih.

Malam ini, kamu telah menyadarkanku. Seakan luka lama yang telah tertutup, terbuka kembali akan hadirmu. Getaran rasa itu merasuk dalam jantung ini. Rasa yang ku kira telah mati, malam ini hidup kembali. Getaran itu semakin kuat, ketika kamu menghampiriku dengannya.

Aku tahu, kamu datang bukan karenaku. Dan aku sadar, kamu dan aku telah berbeda. Keadaannya bukan lagi seperti dulu. Aku pun tak mengerti, getaran ini serasa semakin kuat. Jantungku berdetak lebih kencang, ketika jarakku denganmu lebih dekat. Andai aku petasan, mungkin tadi aku sudah meledak karenamu.

Aku mencoba mengelak, akan getaran itu. Aku mencoba mengartikan getaran hebat itu bukan karenamu, tapi karenanya. Tapi apa yang aku dapat? Semakin aku mencoba mengartikannya, jantungku semakin kencang berdetak. Hingga aku menghela nafas panjang. Ku tak mampu lagi tuk mengartikan getaran ini. Semakin aku mengartikan getaran ini karenanya, semakin kuat rasa ini menolak.

Sejenak aku membiarkan getaran rasa ini mengalir dan mengartikan sendiri. Rasa ini terus mengalir ke arahmu, bukan dia. Andai rasa ini bisa berlabuh, pasti sudah berlabuh di hatimu. Namun, aku sadar semua itu hanyalah mimpiku.

Malam ini, kamu telah membuktikan betapa besar kekuatan rasa itu. Betapa dahsyat getaran rasa itu. Aku telah tersadarkan oleh hadirmu. Mungkin selama ini aku hanya memakai topeng kekuatan tuk menutupi rapuhku.

Seolah aku kuat tanpamu disisiku, tapi nyatanya aku rapuh. Seakan bisa lalui hariku tanpamu, namun aku selalu tersiksa ketika rindu itu datang di setiap malamku. Dan aku berpikir, rasa itu telah tiada. Tapi, aku salah. Rasa itu masih hidup dalam hati dan jiwaku, hingga detik ini.

2 pemikiran pada “Aku, Kamu dan Rasaku

  1. 100 jempol untuk ceritanya dan 100 ribu jempol untuk setiap tetesan airmata yang terurai, tapi semua itu tak sebanding dengan setitik perasaan yang perlahan terhempas. memang sebuah perasaan itu tak bisa diminta dan tak bisa ditolak. namun kita pun harus tetap siap untuk menghadapai perasaan selanjutnya.
    “aku juga punya cerita yang sama”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s