Untaian Doa dalam Lukisan Ketut

DSCN0826

Menatap lukisan Ketut dengan memicingkan mata dan penuh konsentrasi selama beberapa menit, akan merasakan kesegaran jasmani, mental serta pikiran. Seakan lukisan itu hidup dan orang merasakan auranya.

Begitulah keunikan lukisan K.H.M.I.K. Ketut Sugama FGh.SH. Karya lukis Ketut merupakan karya teknik tingkat tinggi. Ia menyelesaikannya dengan pisau lukis, bukan menggunakan kuas. Goresannya pun lugas dan dinamis.

Pelukis spiritual ilahiyah ini, mampu bertahan sejak ia memulai karirnya di usia 22 tahun, hingga detik ini. Meski wajahnya tampak keriput, di usianya yang mencapai 71 tahun, semangatnya masih bergelora untuk berkarya.

Uniknya, dia tak pernah merasa menyelesaikan lukisannya secara total. Ketut percaya, Tuhan-lah pelukis sebenarnya. Sedangkan dirinya hanya laksana alat lukis belaka. Maka dari itu, Ketut tak pernah mengakui lukisan-lukisan yang ia selesaikan sebagai karya lukisnya. “Tuhan-lah pelukis yang sebenarnya,” tutur pelukis beraliran impresionis ini.

Itulah sebabnya setiap hendak melukis, terlebih dahulu ia berdoa. “Ya Allah, Kau lah Pelukis yang sebenarnya, maka ku serahkan diriku, ragaku, qolbu, dan bathinku untuk kau pakai menyelesaikan lukisan ini. Jadikanlah lukisan ini sebagai  muara dan saluran rahmat serta rezeki bagi pemiliknya, sehingga jauh dari penyakit, wabah dan musibah. Sebaliknya dekat dengan kesembuhan, sehat, laba, keuntungan, dan rezeki.”

Hampir di setiap karyanya terselip dua surat, Ar-Rahman dan Al-Waqi’ah. Lukisan-lukisannya bukan hanya sebagai penghias ruangan. “Lukisan saya bisa sebagai penumbuh kehidupan dan keberuntungan, serta penumbuh rezeki atas seizin Allah. Bisa juga sebagai terapi ilahiyah, ” ujar pelukis yang juga juru dakwah ini.

Jauh sebelum Ketut masuk Islam, ia telah merintis nama besar sebagai pelukis cilik. Mulai dari tahun 64an, ia belajar melukis. Tak banyak waktu yang ia butuhkan untuk menjadi pelukis. “Satu tahun belajar, satu tahun bisa melukis. Pada tahun 1965 saya sudah bisa menjual lukisan,” sambung pria asli Bali ini.

Ia melukis bukanlah berawal dari hobi, namun tuntutan untuk mencari uang, guna membiayai sekolahnya. Meski awalnya hanya satu atau dua lukisan yang terjual, tetapi itu sudah bisa menutup kebutuhan sekolahnya.

Namun, perjalanan tak selalu mulus. Ketika tahun 66-67an keadaan politik kacau balau, lukisannya tak laku, sehingga ia tak mampu membayar sekolahnya. “Keturunan darah seni, memang ada. Kalau saya kaya, mungkin saya tidak akan menjadi pelukis,” ucap pria yang hobi olah raga golf.

Keadaan pun terbalik, kondisi seperti itu membuatnya jatuh miskin. Saat itu, Ketut merasa setingkat dengan pengemis, penyakit pun mulai menggerogoti tubuhnya. “Waktu itu saya sampai dihidupi oleh orang gunung, dikasih makan dan segala macamnya,” kenangnya.

Pada saat keadaan politik membaik, Ketut pun kembali melukis lagi. Tak lama setelah itu, ia berhenti dari rutinitasnya. Selama sebelas tahun ia tak pernah melukis, dan kembali melukis lagi pada tahun 96.

Kini melukis sudah menjadi bagian dari kehidupannya. “Karena waktu itu saya menekuni les lukis dan sekolah balita. Pada tahun 2000 semua itu saya tinggalkan, dan les lukis dilanjutkan oleh anak saya,” kata Ketut.

Berangkat dari seorang mualaf yang mengikrarkan diri bersyahadat pada Juni 1996, pria kelahiaran Bali itu muncul sebagai sosok baru yang khas dalam dunia dakwah. Pakaian serba putih dengan sorban dilipat erat, salah satu ciri khasnya.

“Tiga bulan setelah masuk Islam, saya diundang untuk berdakwah. Awalnya saya tidak mau, tapi diminta sama kyai yang membantu saya masuk Islam,” ceritanya. Dakwahnya tak hanya dari gedung birokrat dan mushola desa, hingga pengajian di desa-desa pun tersentuh olehnya.

Selain berdakwah dari tempat di luar lingkungan rumahnya, ia juga berdakwah melalui lantai dua tempat tinggalnya. Memasang sound system berukuran cukup keras, setiap pagi mulai pukul 05.15 – 06.00, Ketut berceramah dengan beragam tema setiap harinya. Mulai dari masalah ibadah hingga persoalan ekonomi dan sosial.

Perjalanannya dalam dunia dakwah pun, tak berjalan mulus. Ketika awal ia menjadi juru dakwah, banyak mendapat hinaan dari sekitarnya. “Pertama sering dihina dan disepelekan. Mualaf kok berdakwah,” kata Ketut menirukan cibiran orang padanya.

Uniknya, dia tak pernah menerima bayaran dari setiap dakwahnya. Ketut selalu membiayai sendiri keperluannya untuk berdakwah. “Saya memberikan dakwah tidak dibayar. Meski saya harus berdakwah ke luar pulau, semua biaya saya tanggung sendiri. Mulai dari pesawat sampai biaya makan dan hotel,” tambahnya.

Karena yakinnya dengan perintah Allah. Dia tak pernah berpikir dari mana biaya dakwah itu mengalir. Citra sebagai seniman lukis yang dikenal secara luas, baik di dalam maupun luar negeri, ternyata menjadi kekuatan pendukung dana Ketut. Dari melukislah, perjalanan dakwah itu dimulai.

Hingga kini, Ketut tetap menjadi pelukis, selain berkonsentrasi sebagai Da’i. “Melukis dan berdakwah adalah dua sisi mata uang yang memiliki makna spiritual. Dan lukisan itu adalah untaian doa saya,” tutup pria yang berkediaman di Jalan Letjend Suprapto VI/68-71 Jember.

naskah dan foto : Ayu Puspitaningtyas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s